Kamis, 01 Januari 2015

Terpopuler - Cepatnya Perputaran Waktu

SETIAP pergantian tahun selalu terdengar komentar bahwa waktu berjalan begitu cepat. Januari 2014 terasa masih hari kemaren dan ternyata saat ini kita bertemu lagi dengan Januari pada tahun berikutnya, 2015.


Dua belas bulan seakan bukan rentang waktu yang sangat panjang, kecuali bagi mereka yang mengisi hari-harinya dengan penantian sesuatu yang tidak pasti atau dengan kerisauan dan kegelisahan yang tiada henti.


Pergantian tahun adalah akibat dari perputaran waktu yang tidak mungkin pernah terhenti, karena berhentinya waktu akan bermakna berhentinya kehidupan. Ia terus berputar sambil merekam semua yang terjadi untuk disampaikan pada waktunya kelak ketika “hari” diminta Allah untuk menjadi saksi (syahid) atas perbuatan semua anak manusia.


Jumlah hari memang hanya ada tujuh, namun Jum’at kemaren adalah berbeda dengan Jum’at hari ini sebagaimana Ahad kemaren adalah berbeda dengan Ahad hari ini. Semua hari adalah hari yang baru yang menurut Rasulullah Saw. akan menjadi saksi atas semua kata, perilaku dan amal ibadah yang dilakukan semua makhluk. Kalau demikian, maka merugilah mereka yang sembarangan dalam bertutur kata, sembrono dalam bertingkah dan lalai dalam ibadah.


Dalam a-Qur’an, begitu banyak sumpah Allah yang menggunakan kata terkait dengan waktu: demi waktu fajar, demi waktu subuh, demi waktu dluha, demi waktu malam dan kalimat tegas demi waktu. Ayat-ayat sumpah seperti itu menunjukkan betapa waktu merupakan hal penting dan menentukan akan sukses gagalnya dan bahagia menderitanya seseorang. Tidak menghargai waktu dan membiarkannya berlalu tanpa ada kegiatan yang bermakna adalah penghinaan akan nilai waktu itu sendiri.


Tulisan ini tidak akan masuk pada perdebatan filsafat tentang waktu yang begitu sulit, rumit dan beragam mulai dari yang menyebutnya sebagai konstruk mental sebagaimana yang diyakini oleh Immanuel Kant dan Frichof Capra, sebagai substansi yang independen seperti yang dianut oleh Isaac Newton, sebagai hubungan antar berbagai hal sebagaimana dipahami oleh Albert Einstein dan Leibniz, atau sebagai aksiden dan bahkan yang menganggap bahwa waktu itu sesuangguhnya tidak ada sebagaimana dipahami oleh para penganut empirisme. Tulisan ini berangkat dari suatu pemahaman yang sederhana sajayakni bahwa waktu adalah rentang masa yang Allah berikan untuk suatu kehidupan.


Menghargai waktu bukanlah dengan menyambut kedatangannya dengan tiupan terompet dan penyalaan kembang api yang menghabiskan ratusan juta bahkan miliaran rupiah sebagaimana lazim dilakukan oleh mereka yang akal dan hatinya terhijabi dari hakikat syukur atau apresiasi. Menghargai waktu adalah dengan caramengisinya dengan segala sesuatu yang disukai Sang Pemilik dan Pengatur waktu. Penghargaan waktu seperti inilah yang akan menjadikan segala zaman yang dilalui menjadi damai, sejahtera dan penuh berkah.


Rasulullah bersabda dalam hadits yang dinarasikan kembali oleh Ibnu Abbas dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam koleksi hadits shahihnya: “Dua keberkahan yang seringkali manusia lalai untuk menggunakannya, yaitu kesehatan dan keluangan waktu.”


Semua waktu berpotensi untuk menjadi berkah kalau ia tidak dibiarkan berjalan kosong tanpa kegiatan yang bernilai ibadah. Ada beberapa hadits lainnya yang menjelaskan pokok perbincangan yang sama, yaitu nilai waktu.


Dalam keseharian sering orang melihat nilai waktu dari sisi nilai ekonomis, seperti kalimat “waktu adalah uang” atau “waktu adalah emas.” Ada yang melihatnya dari sisi nilai filosofisnya seperti “waktu adalah kehidupan itu sendiri” atau “waktu bagaikan pedang” dan lain sebagainya. Dalam Islam, waktu lebih dari sekadar emas dan uang serta hidup dan “pedang” melainkan ia merupakan tempus yang berkaitan erat dengan locusuntuk menjadi media makna kehidupan manusia. Bacalah QS 103:1-3.


Waktu adalah ukuran kehidupan. Setiap manusia pasti memilikinya, karena kelahiran setiap manusia menempati ruang dan waktu, demikian pula kehidupan dan kematiannya. Waktu memiliki tabiat bergerak dan berjalan dengan cepat dari detik menjadi menit, dari menit menjadi jam, dari jam menjadi hari, dari hari menjadi minggu, bulan, tahun dan selanjutnya.


Waktu tidak mengenal istilah berputar kembali, karena itulah maka Imam al-Ghazali menyebutnya sebagai sesuatu yang paling jauh dalam kehidupan manusia. Waktu yang akan datang tidak bisa dikejar dan waktu yang telah terlewati tidak bisa didatangi kembali.


Lebih dalam lagi, waktu adalah hibah (pemberian) sekaligus amaanah (titipan) dari Allah kepada setiap manusia. Mereka yang menggunakannya untuk kebaikan akan mendapatkan reward (pahala) berupa kebahagiaan di dunia dan di akhirat, sementara mereka yang tidak menghargainya dan mengisinya dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan pesan Sang Pemberi waktu pasti akan mendapatkan punishment (siksa)


Jangan pernah tertipu dengan kata “sebentar,” karena “sebentar” itu adalah waktu yang sangat berharga. Lihatlah para juara lomba lari yang menjadi juara hanya karena sampai pada titik finish setengahdetik dari pelari lain yang menjadi lawan lombanya. Lihat pula orang-orang yang terselamatkan diri dari kecelakaan atau bencana hanya karena telah melalui daerah kecelakaan dan bencana itu satu menit sebelum kejadian. Bagaimana lagi dengan nilai satu jam, satu hari, satu minggu, satu bulan dan satu tahun?


Karena itu maka setiap muslim harus memiliki kesadaran penuh akan nilai waktu dan menggunakannya dengan prinsip-prinsip berikut: meyakinkan diri akan manfaat waktu, menggunakan setiap waktu luang, berlomba untuk mempersembahkan yang terbaik, mengambil pelajaran dari waktu-waktu yang telah berlalu, mencari dan menemukan waktu-waktu yang bernilai tinggi (mustajabah), merencanakan dan mengatur waktu,memenuhi kewajiban atau komitmen yang terikat dengan waktu,kesadaran untuk tidak terjebak melalaikan waktu.


Banyak para bijak berkata bahwa siapa yang memiliki waktu luang dan tidak menggunakannya untuk berbuat kebaikan atau hal yang berguna maka ia akan mudah tergoda syetan untuk melakukan sesuatu yang bukan hanya tidak berguna tapi juga melanggar apa yang diperbolehkan Allah.


Kalau begitu, planning and time management (rencana dan manajemen waktu) merupakan suatu keharusan bagi setiap muslim. Namun, seberapa banyakkah umat Islam yang memiliki agenda to do list (daftar hal yang harus dilakukan) dan not to do list (daftar hal yang tidak boleh dilakukan)?


Mulai saat ini kita harus membiasakan diri hidup atas dasar manajemen waktu yang baik agar tahun 2015 yang baru berumur dua hari ini menjadi tahun penuh kebaikan dan kebahagiaan. Renungkanlah firman Allah dalam surat al-‘Ashr (103) sebagai peringatan dan pegangan pokok: “Demi waktu. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan, serta saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.” [*]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Laman