Minggu, 04 Januari 2015

Terpopuler - Mendalami Makna Bakhil

DALAM kitab "al-Aadaab al-Syar'iyyah karya Ibn Muflih dinukil sebuah dialog singkat seseorang yang bertanya kepada Sayyidina Hasan bin Ali (ra) tentang hakikah makna BAKHIL.


Jawaban beliau adalah: "Bakhil itu adalah keyakinan diri bahwa apa yang dinfakkan di jalan Allah dibaca sebagai pengeluaran yang merugikan sementara menahannya sebagai simpanan diri dianggap sebagai kemuliaan."


Menarik sekali definisi di atas. Sering kita mendengar orang menyarankan agar kita "HEMAT" demi masa depan. Tak salah saran itu ketika yang dimaksudkannya adalah saran agar jangan boros menggunakan harta untuk kepentinggan mubah duniawi. Tetapi ketika yang dimaksud adalah agar menafkahkan harta di jalan Allah tidak perlu banyak-banyak maka saran itu telah menyentuh definisi bakhil tadi.


Mengapa orang kita kebanyakan berani membangun rumah di dunia dengan mewah sekali, ratusan juta bahkan miliaran rupiah untuk kehidupan sementara? Sementara "membangun" alam kuburnya yang relatif lama dan rumah akhiratnya yang akan kekal kelak hanya dengan biaya Rp1000 sampai dengan Rp10.000 tiap hari Jum'at? (catatan: itupun kalau tidak lupa membawa uang ke masjid)


Mengapa kebanyakan kita mampu membeli kendaraan itu jalan-jalan di dunia sementara enggan membeli "kendaraan" di akhirat kelak seperti hewan qurban dan lain sebagainya padahal harganya jauh lebih murah?


Mengapa kita selalu mampu membeli pakaian mahal-mahal setiap tahun bahkan setiap bulan untuk dipakai di dunia ini, tapi merasa tidak mampu membeli baju untuk kehidupan akhirat kelak dengan membelikan baju bagi mereka yang membutuhkan tetapi tak mampu?


Jangan-jangan jawabannya adalah dkarena kita BAKHIL sebagaimana definisi tersebut di atas. Cobalah buka al-Qur'an surat Muhammad. Apa sajakah test nyata untuk mengukur kesetiaan kita mengikuti Rasulullah? Ternyata salah satunya adalah menginfakkan hartanya di jalan Allah.


Bulan Rabi'ul Awwal ini, bulan kelahiran Nabi, sangat tepat bagi kita untuk merenungkan kembali sejarah kehidupan Rasulullah Saw. Salam, AIM@Pengajian_Lumajang. [*]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Laman