Jumat, 02 Januari 2015

Terpopuler - Orang yang Hidupnya Gagal

SEKARANG ini mungkin kita sering mendengar kalimat yang di dalamnya ada kata “sukses” atau “kaya”. Mungkin hampir semua kita tertarik mendengarnya. Setiap hari kita disuguhi bermacam contoh orang sukses, dan dipertontonkan kehidupan orang kaya. Sehingga kita pun tergerak, lalu terengah-engah mengejar kesuksesan dan kekayaan tersebut.


Ini karena kita tidak mau diremehkan tetangga. Tidak mau malu saat reuni angkatan. Minder kalau lebaran masih pakai motor rombeng, sedangkan kakak atau adik kita sudah membawa mobil. Ketika pengajian, kita datang paling awal untuk menyembunyikan motor itu di bawah pohon, dan pulang paling akhir agar bisa khusyuk membersihkan ranting dan daun yang menutupinya. Kita malu disebut gagal, dan takut masa depan terlantar.


Nah, saudaraku, pernahkah kita bertanya pada hati terdalam kita, tentang apa sebetulnya sukses dan gagal itu? Sudahkah kita mencari tahu tentang keduanya dengan mempelajari al-Quran? Sudahkah kita berdoa kepada Allah SWT agar hidup kita selalu ditunjuki? Ataukah kita mengartikannya dari cibiran tetangga, gunjingan teman seangkatan, kedipan lampu mobil adik kita, dan dari yang sehari-hari dipertontonkan? Di sinilah kita sering keliru.


Setiap melihat ada tetangga “kaya” perasaan kita tertekan, setiap mendengar ada teman “sukses” badan jadi meriang. Hidup seakan tidak berarti jika tidak meraihnya. Kita tidak tahan ingin cepat membeli rumah dan mobil mewah, punya jabatan atau perusahaan megah, memesan kavling pemakaman yang akses dan pemandangannya indah, mungkin sekaligus cepat diantarkan karangan bunganya. Kita rasanya ingin segera mengumumkan, bahwa “Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat.”


Tidak boleh, saudaraku. Karena kalimat itu adalah kata-kata seseorang yang menganiaya dirinya sendiri, yang diceritakan al-Quran dalam surat al-Kahfi [18] ayat 34. Kita tidak boleh mengikuti hawa nafsu dan berangan-angan terlalu jauh. Berlomba mengumpulkan gemerlap dunia hanya akan membuat silau dan buta diri kita sendiri. Semakin lupa kalau hidup ini hanya menumpang. Dan membuat kita sombong. Padahal semua yang ada di langit dan di bumi adalah ciptaan dan milik Allah SWT.


Ingatlah Rasulullah Saw yang hidup tawadhu. Beliau teladan kita. Jadi di zaman serba “sukses” dan “kaya” sekarang, tidak masalah dan tidak bahaya kalau kita hidup tawadhu. Walau nanti kita bisa dinilai gila oleh tetangga, atau disebut sinting oleh teman seangkatan. Yang bahaya itu tadi. Kalau kita berlomba dalam kehidupan dunia. “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu itu.” (QS. at-Takâtsur [102]: 1-3).


Masa depan kita adalah akhirat, dan di akhirat pula kesuksesan hidup akan ditentukan. Mari kita tawadhu. Dan, yang penting kita tidak lupa pada doa yang dibaca Rasulullah Saw, “Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kekurangan dan kehinaan, serta dari menganiaya dan dianiaya.” Teruslah berikhtiar supaya hidup kita cukup dan tidak meminta-minta. Hanya kepada Allah SWT kita berharap dan takut, dan kepada-Nya pula kita kembali.


Misalkan ketika melihat ada sarjana yang giat bekerja sebagai tukang batu, maka jangan merasa kasihan padanya. Kasihanilah diri kita sendiri, yang hanya duduk melamun menanti panggilan jadi presiden. Seperti itu juga kata-kata yang dibikin keliru sebagian orang: “Uang bukan segalanya, tapi semuanya harus pakai uang.” Mengapa kita harus menginginkan semuanya? Kufurkah kita? “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (baca surah ar-Rahmân).


Jadi, orang yang sukses itu adalah orang yang setiap hari bertambah keyakinannya kepada Allah SWT. Dengan begitu, orang yang gagal adalah orang yang hari-harinya tetap tidak mendekat kepada Allah. Apalagi yang makin jauh dari-Nya. “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. al-‘Ashr [103]: 1-3).


Setiap insan pasti rugi, kecuali yang bertambah iman, amal dan kesalehannya, serta bertambah kemampuannya untuk menerima dan menyampaikan nasihat, dalam kebenaran dan kesabaran. Keyakinan, amal, kesalehan dan kemampuan itu berada dan bersumber di hati. Sehingga kekayaan hati itulah kekayaan kita yang sesungguhnya.


Kalau begitu, bolehkah kita menginginkan dunia? Boleh. Tetapi kita menginginkan dunia karena ingin dekat dengan Allah SWT. Kita ingin punya uang banyak bukan karena bisa beli macam-macam, tapi karena banyak bersedekah itulah yang menarik. Ingin punya tanah yang luas bukan karena tertarik nilai investasinya, tapi karena kita terbayang orang berbondong-bondong salat di tanah wakaf, dan pahala yang terus mengalir setelah meninggal.


Boleh menginginkan dunia asal keinginan itu bukan untuk kepuasan nafsu. Kita menginginkannya tidak lain hanya untuk mendekat kepada Allah. Juga jangan lupakan bahwa kita tetap harus realistis dan tidak berangan-angan terlalu jauh. Minta saja kepada Allah. Tapi jangan mengatur Allah, karena Dia lebih mengetahui kemampuan kita dibanding kita sendiri. Dan mendekat kepada-Nya tidak harus dengan memiliki dunia.


Jika nanti Allah memberi, dan kita bisa menafkahkan dengan benar, maka jaga agar tidak jadi ujub dan riya. Misalkan diberi rezeki mobil. Saat memberi tumpangan gratis ke pengajian, jangan menyetir sambil mengangkat dagu. Nanti bisa salah belok ke tempat pembuangan akhir.


Atau sampai pengajian bercerita kepada orang di sebelah, “Pengajiannya ramai, mobil saya saja penuh bawa tetangga. Jadi maaf pak, saya belum bisa memberi tumpangan pulang.” Jangan tiba-tiba membuat orang di sebelah bingung, karena berkenalan pun belum. Ujub dan riya hanya akan menghapus amal itu sendiri.


Oleh sebab itu, ketika kita mau berikhtiar, mintalah kepada Allah SWT supaya niat dan caranya benar. Kalau sudah diberi, maka minta agar pemberian-Nya bisa kita nafkahkan dengan benar. Dan kalau sudah bisa dinafkahkan dengan benar, kita mohon kepada Allah supaya nafkah kita itu betul-betul terjaga dan bersih di jalan-Nya. Tidak jadi ujub dan riya karenanya.


Nah, saudaraku, jangan menunggu esok hari. Karena tidak ada di antara kita yang sanggup memastikan apa yang bakal terjadi besok. Setelah membaca tulisan ini, mari kita bulatkan tekad untuk mendekat kepada Allah. Kita berdoa, “Ya Allah, tidak ada yang tersukses dalam hidup ini, selain mengenal dan patuh kepada-Mu. Hanya itu yang saya inginkan. Kalau Engkau ingin memberi saya dunia, maka berikan dunia yang membuat saya semakin yakin dan patuh kepada-Mu, dan bermanfaat bagi makhluk-makhluk lainnya.”


Semoga kita tidak termasuk golongan orang yang hidupnya gagal. Yaitu orang-orang yang di akhirat nanti dihadapkan ke neraka, dan dikatakan kepada mereka, “Kamu telah menghabiskan rezeki yang baik untuk kehidupan duniamu, dan kamu telah bersenang-senang menikmatinya. Maka pada hari ini kamu dibalas dengan azab yang menghinakan, karena kamu sombong di bumi tanpa mengindahkan kebenaran, dan kamu tidak patuh kepada Allah.” (QS. al-Ahqâf [46]: 20). [*]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Laman