Jumat, 06 Maret 2015

Minyak Mentah AS Turun Jadi US$49,61/barel

Berita Minyak Mentah AS Turun Jadi US$49,61/barel diterbitkan March 07, 2015 at 01:08PM



INILAHCOM, New York - Minyak mentah Brent tergelincir lebih jauh ke titik merah, Jumat (06/03/2015) sore. Minyak Brent jatuh dibawah US$60 per barel akibat dampak pertempuran di Libya dan Irak di Timur Tengah dan Afrika Utara, yaang mengganggu produksi minyak. Sementara, minyak mentah AS ditutup turun US$1,15 atau 2,27 persen pada US$49,61 per barel.



Dolar mencapai level tertinggi 11,5 tahun terhadap beberapa mata uang setelah data pekerjaan AS yang kuat mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga lebih cepat dari yang diperkirakan di ekonomi terbesar dunia. Percepatan tenaga kerja AS pada Februari 2015 dan menurunnya tingkat pengangguran menjadi 5,5 persen, menjadi tanda-tanda yang bisa mendorong Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga.



Perusahaan jasa minyak Baker Hughes melaporkan jumlah rig AS mengeksplorasi minyak turun 63 pada minggu lalu, naik dari penurunan 33-rig di survei sebelumnya. Laporan itu indikator bagi beberapa investor mengukur apakah produsen shale memotong output setelah harga merosot.



Persediaan tetap menjadi kekhawatiran utama bagi pasar minyak internasional. Sejauh ini, pertempuran meningkat di timur laut Irak, saat militan Negara Islam membakar ladang minyak untuk mencegah milisi Syiah dan tentara Irak memborbardir. Di Libya, memburuknya keamanan telah menyebabkan penutupan 11 ladang minyak.



"Gangguan pasokan sudah pasti datang kembali ke fokus untuk saat ini. Libya adalah penting karena serangan militan pada infrastruktur meningkat," ujar analis minyak pada Aspek konsultasi Energi Virendra Chauhan.



Tamas Varga, analis dari London broker PVM Oil Associates, mengatakan, "Pertempuran ladang minyak Libya dan Irak mengkhawatirkan. Ada masalah pasokan yang serius di sana."



Sejauh ini, investor mengamati rincian lebih lanjut dari pembicaraan nuklir antara Iran dan kekuatan utama dunia. Para diplomat Barat mengatakan ada beberapa tanda-tanda kemajuan dalam diskusi dengan Teheran atas lahirnya industri nuklir baru. Ada tanda-tanda kesepakatan antara Iran dan kekuatan dunia bisa mengakibatkan banjir minyak mentah Iran kembali ke pasar.



Menteri luar negeri Iran telah mengusulkan moratorium 10 tahun pada beberapa aspek program nuklir mungkin dapat diterima, meskipun ia menolak membahas masalah secara rinci.



Kantor berita Iran semi-resmi Mehr Mohsen Ghamsari mengatakan Teheran akan meningkatkan ekspor minyak mentah jika sanksi dicabut. [aji]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Laman