INILAHCOM, Jakarta – Seiring kemerosotan kurs rupiah hingga menembus 13.000 per dolar AS belakangan ini, pemerintah akan mengeluakan Delapan Paket kebijakan awal pekan depan.
Tujuannya untuk menstimulus nilai tukar rupiah. Beragam faktor menjadi penyebab kurs rupiah melemah. Di antaranya fundamental ekonomi Indonesia yang masih rapuh serta sentimen regional Asia dan negara-negara berkembang yang memburuk dan berakibat pada pelarian modal ke luar negeri selain itu juga penguatan ekonomi AS.
Salah satu dampak yang langsung terasa saat kurs rupiah melemah adalah kenaikan harga barang-barang impor. Sebagian besar perdagangan luar negeri Indonesia dijalankan dengan perantaraan dolar AS. Mahalnya dolar AS akan membuat harga barang impor juga makin mahal.
Apakah ini bagus?
Bagi barang-barang impor dari jenis barang konsumsi, mungkin bagus. Katakanlah harga buah-buahan impor naik sehingga orang mungkin akan tertarik untuk membeli buah-buahan lokal yang lebih murah dan segar.
Jika masyarakat lebih suka buah lokal, maka impor buah pun akan turun. Pendapatan importir buah ikut anjlok, tetapi di saat yang bersamaan akan menggeser rejeki ke petani dan pedagang buah lokal.
Kenaikan kurs rupiah menyebabkan beragam dampak bagi industri di tanah air. Ada yang mensiasatinya dengan menambah rute perjalanan, ada yang harus tutup sementara hingga mungkin selamanya. Beragam dampak tersebut sekaligus dapat menambah atau mengurangi pendapatan yang diterima oleh para pemilik bisnis. [jin]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar